Terik dan Teriakan: Ribuan Suara Muda Guncang Jakarta untuk Iklim

Gambar: Demo Krisis Iklim di Indonesia 
(Sumber: Tribunnews.com)


Sekitar 5.000 orang lintas usia turun ke jalanan Ibu Kota dalam aksi Climate March 2025. Teriakan keadilan iklim menggema dari generasi muda yang menuntut perubahan nyata untuk masa depan bumi.


Jakarta siang itu terasa berbeda. Bukan hanya karena teriknya matahari yang menyengat kulit, tetapi juga karena jalanan dari Monas hingga Bundaran HI dipenuhi ribuan orang yang bergerak bersama. Sabtu (17/5), sekitar 5.000 peserta mengikuti aksi damai bertajuk Climate March: Suara Anak Muda untuk Bumi sebuah gerakan yang menyerukan keadilan iklim dengan suara lantang dan penuh kreativitas.


Suasana penuh semangat menyelimuti massa aksi yang mayoritas adalah anak-anak muda dari berbagai komunitas, universitas, dan organisasi masyarakat sipil. Namun, tak sedikit juga peserta yang berasal dari kelompok usia lebih tua, datang bersama keluarga, hingga seniman jalanan yang turut memeriahkan suasana dengan pertunjukan teatrikal dan musik akustik.


Poster-poster yang dibawa para peserta menjadi daya tarik tersendiri. Kalimat-kalimat seperti “There’s No Planet B”, “Kebijakan Tanpa Aksi Adalah Polusi”, hingga “DPR: Dengar Pikir Rakyat, Bukan Korporat!” tampak menghiasi barisan, menyampaikan kritik dengan cara yang tajam namun penuh gaya.


Nadya Kusuma (21), mahasiswi yang tampil sebagai orator dari atas mobil komando, menyuarakan keresahan banyak anak muda terhadap kebijakan yang tak kunjung berpihak pada lingkungan.


“Aksi ini bukan sekadar pawai, ini panggilan darurat. Krisis iklim nyata, dan kami lelah melihat janji kosong,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan massa.


Menurut data panitia, aksi ini diikuti oleh lebih dari 50 komunitas yang memiliki perhatian khusus terhadap isu lingkungan dan keadilan sosial. Kehadiran lintas generasi menjadi bukti bahwa krisis iklim bukan hanya beban masa depan, tapi telah menjadi keresahan hari ini.


Andi Gunawan, seorang ayah muda yang datang bersama anak laki-lakinya, menyebut bahwa aksi ini menjadi ruang belajar langsung bagi generasi berikutnya.


“Bumi bukan milik kita hari ini saja, tapi milik anak-anak kita nanti. Kalau sekarang diam, kita sedang merampas masa depan mereka,” katanya sambil mengelus kepala anaknya yang membawa poster buatan sendiri.


Aksi ditutup dengan pembacaan petisi terbuka kepada pemerintah, yang berisi tujuh tuntutan mendesak, seperti penghentian pembukaan lahan sawit baru, percepatan transisi ke energi bersih, serta transparansi dalam kebijakan lingkungan. Pertunjukan teatrikal yang menggambarkan dampak nyata krisis iklim juga turut menyentuh hati banyak peserta.


Meski aksi telah usai, semangat yang tertinggal di jalanan Jakarta tak mudah pudar. Climate March 2025 tak hanya menjadi aksi simbolik, tetapi juga pengingat bahwa suara dari jalanan terutama suara generasi muda tak bisa lagi diabaikan. Mereka bukan hanya menuntut, tapi juga merawat harapan untuk bumi yang lebih adil dan lestari.

Postingan populer dari blog ini

Satu Per Satu Hilang: Orangutan dan Badak Jawa Kritis Tergerus Iklim

Langkah Kecil di Genangan Besar: Potret Jakarta Utara

Cuaca Tak Menentu, Kemarau Basah Jadi Sinyal Krisis Iklim