Satu Per Satu Hilang: Orangutan dan Badak Jawa Kritis Tergerus Iklim
Perubahan iklim mempercepat krisis bagi dua ikon satwa Indonesia: orangutan dan badak Jawa. Habitat makin menyempit, pakan kian langka, dan harapan lestari terancam sirna sebelum dunia sempat mengenal lebih jauh.
Jakarta, 22 April 2025 – Perubahan iklim mempercepat ancaman kepunahan dua spesies endemik paling langka di Indonesia: Orangutan Sumatra (Pongo abelii) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Keduanya kini berada di ambang kepunahan bukan hanya karena perburuan dan deforestasi, tetapi juga akibat dampak iklim yang makin ekstrem.
Menurut laporan dari The Conversation Indonesia (2022), habitat orangutan Sumatra diperkirakan akan menyusut hingga 90% pada 2050 akibat kenaikan suhu dan perubahan pola hujan. Orangutan yang sangat bergantung pada hutan primer kesulitan beradaptasi dengan perubahan ekosistem yang drastis. Perubahan ini juga menyebabkan berkurangnya pepohonan penghasil buah, sumber utama makanan mereka.
Sementara itu, Badak Jawa, spesies badak bercula satu yang kini hanya tersisa 77 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon, menghadapi tekanan besar dari kekeringan dan suhu panas berkepanjangan. Ketersediaan pakan terganggu, dan tanaman yang biasa tumbuh subur kini sulit berkembang. Lebih parahnya, karena populasi Badak Jawa sangat terkonsentrasi di satu lokasi, bencana alam seperti tsunami atau wabah penyakit akibat perubahan iklim bisa menghancurkan mereka dalam satu kejadian tunggal.
Kedua spesies ini adalah simbol keanekaragaman hayati Indonesia, namun di tengah krisis iklim, mereka justru menjadi cermin kegagalan manusia menjaga keseimbangan alam.
“Perubahan iklim telah memicu berbagai gangguan lingkungan yang berdampak langsung pada kehidupan satwa, termasuk mengganggu sumber pakan dan mempersempit habitat,” ujar Ahmad Munawir, Manajer Program WWF Indonesia, dikutip dari Greeners.co.
Jika suhu terus meningkat, curah hujan makin tak menentu, dan hutan terus menyusut, maka peluang bertahan bagi orangutan maupun badak Jawa akan semakin kecil.
![]() |
| Gambar 2: Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) (Sumber: Gallery - Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) |
Perubahan iklim bukan sekadar isu global yang jauh di atas langit. Ia hadir dalam bentuk hutan yang mengering, rantai makanan yang terputus, dan spesies yang hilang tanpa jejak. Orangutan dan badak Jawa hanyalah dua dari ratusan spesies yang terdampak—dan mungkin yang paling beruntung karena masih sempat tercatat sebelum benar-benar lenyap.
Jika upaya pelestarian tidak segera diperkuat—baik melalui kebijakan mitigasi iklim, pengawasan hutan, maupun kesadaran publik—maka kita harus bersiap menghadapi era baru: di mana satwa-satwa megafauna hanya hidup dalam kenangan, dan kepunahan adalah warisan bagi generasi selanjutnya.

