Di Balik Kabut Halimun, Tersimpan 200 Spesies Langka

Gambar 1: Gunung Halimun
(Sumber: Liputan6.com)


Taman Nasional Gunung Halimun Salak menyimpan lebih dari 200 spesies endemik yang belum banyak terekspos publik. Kawasan ini dinilai punya potensi besar sebagai destinasi ekowisata tersembunyi di Jawa Barat.


Lebih dari 200 spesies endemik tercatat berada di kawasan Pegunungan Halimun yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Data ini dirilis oleh Balai TNGHS tahun 2024 dan diperkuat hasil monitoring keanekaragaman hayati oleh WWF Indonesia.


Beberapa spesies langka yang ditemukan di antaranya owa jawa (Hylobates moloch), macan tutul jawa (Panthera pardus melas), dan elang jawa (Nisaetus bartelsi), yang seluruhnya masuk kategori terancam punah menurut IUCN. Vegetasi khas hutan hujan tropis juga mendominasi lanskap pegunungan yang membentang di wilayah Bogor, Sukabumi, dan Lebak ini.


Kawasan dengan luas lebih dari 113.000 hektare itu menjadi salah satu ekosistem paling utuh di Pulau Jawa bagian barat. Meski demikian, wilayah ini masih minim akses dan promosi sebagai destinasi wisata. Akses utama menuju titik-titik konservasi bisa dijangkau dari Bogor menuju Desa Malasari dan Citalahab dengan waktu tempuh sekitar 3–4 jam menggunakan kendaraan roda empat.


Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan KLHK, Dedi Hermawan, dalam keterangannya, menyebut Pegunungan Halimun sebagai wilayah prioritas dalam strategi pengembangan ekowisata nasional. “Kawasan ini sangat kaya spesies endemik dan potensial menjadi destinasi wisata konservasi berbasis masyarakat,” katanya, Senin (19/5).


Hingga kini, kegiatan wisata di kawasan Halimun masih dikelola terbatas oleh komunitas lokal dan pengelola taman nasional. Wisatawan yang datang mayoritas merupakan peneliti, pecinta alam, dan pengunjung dengan minat khusus.


Gambar 2: Penampakan 2 Ekor Macan Kumbang di Gunung Halimun 
(Sumber: KOMPAS.com)

Peneliti ekowisata dari IPB, Dr. Luthfi Maulana, menilai kawasan ini berpotensi besar dikembangkan dengan pendekatan wisata ramah iklim. “Rute ke Halimun relatif mudah dijangkau dari pusat kota Bogor. Tinggal bagaimana membangun infrastruktur dan regulasi yang tidak merusak alam,” ujarnya.


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa sekitar 75 persen wilayah TNGHS masih berupa hutan primer. Artinya, kawasan ini menyimpan fungsi ekologis strategis sebagai penyerap karbon dan pelindung biodiversitas.


Dengan tata kelola yang hati-hati, Pegunungan Halimun berpeluang menjadi model pengembangan ekowisata berkelanjutan yang berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Postingan populer dari blog ini

Satu Per Satu Hilang: Orangutan dan Badak Jawa Kritis Tergerus Iklim

Langkah Kecil di Genangan Besar: Potret Jakarta Utara

Cuaca Tak Menentu, Kemarau Basah Jadi Sinyal Krisis Iklim